06 Agustus 2008
di
06:09
|
15 Juni 2008
di
20:20
|
Ada banyak kemungkinan yang bisa menjadi penyebab anak jenuh sekolah, dan setiap 'penyebab' juga punya cara yang berbeda untuk mengatasinya. Seperti, jika ia punya masalah dengan teman-temannya, berilah pemahaman mengenai pertemanan yang baik.
Jika ia jenuh sekolah karena jengkel dengan teman-temannya, tanyakan masalahnya. Mintalah ia untuk berbaikan atau meminta maaf jika salah. Jangan lupa menjelaskan letak kesalahannya. Ini juga berlaku bagi kesalahan yang tak disengaja. Jika andalah yang menjadi penyebabnya, segeralah minta maaf pada anak, sehingga dia terbiasa menghargai perasaan orang lain.
Terkadang, anak kesulitan menghadapi materi belajar sekolah yang dirasa cukup berat. Untuk masalah ini, anda bisa berkonsultasi dengan gurunya dan membantu anak dalam proses belajarnya. Menurut Watson dan Lindgren dalam bukunya Psychology of the Child and the Adolescent, anak berada pada tingkatan bermain kooperatif. anda bisa membantu anak untuk membina dan menjaga hubungan dengan teman-temannya, dan mengajarinya cara berkerja sama dengan orang lain.
Luangkan waktu. Perhatikan waktu anda bersama anak. Sesibuk apapun anda, misalnya anda bekerja, anak butuh dorongan dan sentuhan seorang ibu. Ia belum bisa sepenuhnya dilepaskan, meski sudah bersekolah.
Motivasi anak untuk menemukan hal-hal baru yang menarik disekolahnya. Segala macam yang ada lingkungan sekolah, mulai dari teman, aturan, jajanan, taman sekolah, guru, penjaga sekolah, dll adalah hal baru bagi anak. Nah..Hal-hal baru tersebut dapat menjadi pengetahuan yang menarik dan bermanfaat untuknya. Jangan jadikan lingkungan sekolahnya sebagai ancaman, berikan citra positif terhadap lingkungan sekolah bagi anak.
Menurut penelitian yang dilakukan Michael Yogman MD, asisten profesor dan dokter anak di Tufts Medical School di Boston, anak membutuhkan sentuhan ibunya secara rutin setiap hari. Sentuhan ini akan membuat anak tenang, percaya diri, dan merasa dilindungi. Anak butuh kehadiran ibu pada saat-saat tertentu. Pelukan atau ciuman sebelum tidur, membacakan cerita, atau bahkan membuat pekerjaan rumah bersama ibu memberikan nuansa rasa yang sulit digantikan orang lain.
Jadi daripada berkata, "Dasar, anak bodoh!" (menunjukkan bahwa orang tua menolak anaknya), sebaiknya orang tua berkata, "Jangan bolos sekolah ya!". Jangan menyuruh anak pergi sekolah dengan mengatakan, "Ibu/Ayah ingin kamu berangkat sekarang!" Ini bisa menciptakan konflik dengan anak anda.
Strategi yang lebih baik adalah langsung menekankan peraturan secara impersonal. Misalnya, anda bisa mengatakan, "Sekarang sudah jam 07.00 lho sayang. Waktu kamu untuk berangkat." Dalam cara ini, setiap konflik atau perasaan marah yang terjadi pada diri anak hanya akan terjadi antara anak dengan "jam"-nya, bukan dengan orang tuanya.
Ajarkan disiplin. Sekolah membutuhkan kedisiplinan. Selain di sekolah, anda juga bisa mengajarkan disiplin di rumah. Kesibukan di rumah seperti membereskan kamarnya sendiri, meletakkan alat-alat permainan dan alat sekolahnya sendiri, merupakan aktivitas yang mengajarkan tata tertib dan disiplin. Ini perlu dilakukan dengan perjanjian antara orang tua dan anggota keluarga lainnya.
Bisa juga energi anak yang besar diarahkan untuk aktivitas lain di luar rumah, seperti berenang atau mengikuti kelompok permainan atau ketrampilan. Buatkan jadwal kapan ia harus berenang, melukis, bermain, dan sebagainya. Dengan begitu anak terbiasa untuk belajar bergaul dan dispilin.Perlu membuat aturan yang kosisten. Misalnya, hari ini anak disuruh tidur jam 20.00, begitu juga besok dan seterusnya. Ketakkonsistensian bisa mengundang ketakpatuhan dan hampir tak mungkin untuk mendisiplinkan anak. Anda harus memberikan pembenaran kenapa aturan itu dibuat. Bila anak mengerti pembenaran atas suatu peraturan, ia cenderung mematuhi daripada membangkangnya.
Ada banyak jika..karena apa yang ada dalam artikel ini hanya sebagai contoh, karena setiap persoalan memiliki karakter yang berbeda. Prinsipnya adalah disiplin, luangkan waktu dan perhatian untuk anak, mendengar dan menghargai proses belajarnya. Dengan semangat menyelesaikan setiap masalah yang muncul, mudah-mudahan anda bisa menemukan sendiri cara yang sesuai untuk anak anda.
Artikel diambil dari wanita.com
Jika ia jenuh sekolah karena jengkel dengan teman-temannya, tanyakan masalahnya. Mintalah ia untuk berbaikan atau meminta maaf jika salah. Jangan lupa menjelaskan letak kesalahannya. Ini juga berlaku bagi kesalahan yang tak disengaja. Jika andalah yang menjadi penyebabnya, segeralah minta maaf pada anak, sehingga dia terbiasa menghargai perasaan orang lain.
Terkadang, anak kesulitan menghadapi materi belajar sekolah yang dirasa cukup berat. Untuk masalah ini, anda bisa berkonsultasi dengan gurunya dan membantu anak dalam proses belajarnya. Menurut Watson dan Lindgren dalam bukunya Psychology of the Child and the Adolescent, anak berada pada tingkatan bermain kooperatif. anda bisa membantu anak untuk membina dan menjaga hubungan dengan teman-temannya, dan mengajarinya cara berkerja sama dengan orang lain.
Luangkan waktu. Perhatikan waktu anda bersama anak. Sesibuk apapun anda, misalnya anda bekerja, anak butuh dorongan dan sentuhan seorang ibu. Ia belum bisa sepenuhnya dilepaskan, meski sudah bersekolah.
Motivasi anak untuk menemukan hal-hal baru yang menarik disekolahnya. Segala macam yang ada lingkungan sekolah, mulai dari teman, aturan, jajanan, taman sekolah, guru, penjaga sekolah, dll adalah hal baru bagi anak. Nah..Hal-hal baru tersebut dapat menjadi pengetahuan yang menarik dan bermanfaat untuknya. Jangan jadikan lingkungan sekolahnya sebagai ancaman, berikan citra positif terhadap lingkungan sekolah bagi anak.
Menurut penelitian yang dilakukan Michael Yogman MD, asisten profesor dan dokter anak di Tufts Medical School di Boston, anak membutuhkan sentuhan ibunya secara rutin setiap hari. Sentuhan ini akan membuat anak tenang, percaya diri, dan merasa dilindungi. Anak butuh kehadiran ibu pada saat-saat tertentu. Pelukan atau ciuman sebelum tidur, membacakan cerita, atau bahkan membuat pekerjaan rumah bersama ibu memberikan nuansa rasa yang sulit digantikan orang lain.
Jadi daripada berkata, "Dasar, anak bodoh!" (menunjukkan bahwa orang tua menolak anaknya), sebaiknya orang tua berkata, "Jangan bolos sekolah ya!". Jangan menyuruh anak pergi sekolah dengan mengatakan, "Ibu/Ayah ingin kamu berangkat sekarang!" Ini bisa menciptakan konflik dengan anak anda.
Strategi yang lebih baik adalah langsung menekankan peraturan secara impersonal. Misalnya, anda bisa mengatakan, "Sekarang sudah jam 07.00 lho sayang. Waktu kamu untuk berangkat." Dalam cara ini, setiap konflik atau perasaan marah yang terjadi pada diri anak hanya akan terjadi antara anak dengan "jam"-nya, bukan dengan orang tuanya.
Ajarkan disiplin. Sekolah membutuhkan kedisiplinan. Selain di sekolah, anda juga bisa mengajarkan disiplin di rumah. Kesibukan di rumah seperti membereskan kamarnya sendiri, meletakkan alat-alat permainan dan alat sekolahnya sendiri, merupakan aktivitas yang mengajarkan tata tertib dan disiplin. Ini perlu dilakukan dengan perjanjian antara orang tua dan anggota keluarga lainnya.
Bisa juga energi anak yang besar diarahkan untuk aktivitas lain di luar rumah, seperti berenang atau mengikuti kelompok permainan atau ketrampilan. Buatkan jadwal kapan ia harus berenang, melukis, bermain, dan sebagainya. Dengan begitu anak terbiasa untuk belajar bergaul dan dispilin.Perlu membuat aturan yang kosisten. Misalnya, hari ini anak disuruh tidur jam 20.00, begitu juga besok dan seterusnya. Ketakkonsistensian bisa mengundang ketakpatuhan dan hampir tak mungkin untuk mendisiplinkan anak. Anda harus memberikan pembenaran kenapa aturan itu dibuat. Bila anak mengerti pembenaran atas suatu peraturan, ia cenderung mematuhi daripada membangkangnya.
Ada banyak jika..karena apa yang ada dalam artikel ini hanya sebagai contoh, karena setiap persoalan memiliki karakter yang berbeda. Prinsipnya adalah disiplin, luangkan waktu dan perhatian untuk anak, mendengar dan menghargai proses belajarnya. Dengan semangat menyelesaikan setiap masalah yang muncul, mudah-mudahan anda bisa menemukan sendiri cara yang sesuai untuk anak anda.
Artikel diambil dari wanita.com

















